RSS

Aku, Si Hitam, dan Si Centil (PART II)


Setelah insiden memulaskan yang melibatkan si remote tv, sekarang giliran modem internet kami yang jadi perantara si Centil bersikap sangaaaaaat polos.  Let’s check this out!
          Siang itu adalah siang yang saaaaaaaaaaaangat terik.  Semakin hari, si Bumi semakin panas.  Panasnya Bumi pun ikut mempengaruhi mood-ku siang hari itu.  Malam sebelumnya, aku memang kurang tidur.  Tak sampai 8 jam aku tidur.  Pagi harinya, pada jam pertama di sekolah adalah jam olahraga.  Temanku member perintah untuk lari memutari lapangan sekolah yang sangat luas (menurutku) sebanyak tiga kali.  Errr… biasanya hanya dua kali putaran.  Kenapa saat aku tidur kurang dari delapan jam harus lari tiga kali? Kenapa tidak sekali saja? Nice.
          Saat berlari untuk yang kedua kalinya, mataku sudah mulai berkunang-kunang karena rasa kantuk yang tak tertahankan.  Akhirnya aku pun terjatuh di depan barisan sehingga menghalangi pelari lainnya.  Wow, betapa buruknya awal hariku saat itu.
          Berjam-jam di sekolah dengan terkantuk-kantuk bukan hal yang baik.  Sangat mempengaruhi moodku.  Hingga saat pulang dan sampai di depan pintu rumah, aku pun masih merasa kesal karena kurang tidur dan terjatuh dengan cara yang sangat memalukan.
          Begitu masuk di ambang pintu kamar, kulihat si Hitam dan si Centil sedang bermain laptop.  Si Hitam menggunakan laptop milikku, sementara si Centil menggunakan laptop milik ayah.  Begitu kulihat si Hitam sedang browsing.  Aku sangaaaaaaaaaaat addicted alias kecanduan dengan sesuatu berbau internet.  Facebook, Twitter, Blogger, Yahoo Messenger.  Mood-ku yang sangat buruk mendorongku untuk merebut modem itu dari si Hitam.  Aku ingin twitting, blogging, ym-ing.  Akan sangat membantu jika aku bisa browsing sejenak lalu tidur.  Tapi nyatanya, rencanaku tak berjalan mulus.  Si Hitam ogah-ogahan memberikan modem hitam kecil itu padaku.  Ia memakiku dengan kata-kata kasar.  Aku yang memang moodnya sangat buruk langsung menghamburkan diri ke kamarku.  Aku pun menangis.  Bukan hanya soal modem itu.  Tapi semua kejadian buruk yang aku alami hari itu.  Air mata itu keluar dengan sendirinya dari tempat persembunyiannya.  Si Centil pun datang dan menghiburku.  Ia tak tahu apapun yang terjadi padaku hari itu.  Ia hanya tahu bahwa aku menangis karena si Hitam menolak memberi modem dan memakiku.  Yaaaah, saat itu kupikir biarlah si Centil mengetahui hal itu saja dari sekian banyak hal buruk yang terjadi hari itu.  Si Centil tidak perlu tahu bahwa hari itu aku sudah mempermalukan diri sendiri dengan terjatuh di lapangan.  Ia tidak perlu tahu bahwa hari itu teman terbaikku ‘hilang’.  Tidak.  Yaaaaa.  Tidak perlu tahu.
          Setelah lelah menangisi hari itu (suatu hal yang sangat sia-sia setelah kupikir-pikir), aku pun tertidur hingga sore hari menjelang maghrib.  Saat terbangun dan sadar bahwa sebentar lagi ibu akan sampai di rumah setelah pulang dari kantor, aku pun terburu-buru berlari menyambar handuk oranye dan masuk ke dalam kamar mandi.  Ketika kulihat di cermin, ternyata mataku bengkak.  Nice.
          Ibu pun sampai di rumah tanpa kudengar klakson mobil mungkin karena aku saking asiknya di kamar mandi.  Aku pun berdandan sedikit lalu keluar kamar untuk makan malam.  Ibu yang menyadari ada yang aneh denganku mulai menanyakan perihal mata bengkakku.  Aku pun terdiam cukup lama untuk merenungi harus menjawab apa. Jika kujawab bahwa kami berebut menggunakan modem, matilah kami.  Saat hari sekolah, modem disimpan di tempat rahasia ibu.  Tentu kami tak boleh tahu.  Si Hitam mengambil modem tersebut secara sembunyi-sembunyi dari lemari ibu (bisa dibilang mencuri).  Kalau hal itu ketahuan, bisa-bisa tempat penyimpanan modem dijauhkan dari jangkauan kami.  Hening di meja makan menunggu jawabanku.  Si Centil pun menjawab,
          “Ituuuu… kakak pada berantem rebutan modem.  Si Item nggak mau ngasih modemnya ke kakak.” Hening.  Ibu pun hanya bertanya, “Modem?”
          “Iya, modem.  Item nggak ngasih ke kakak, makanya kakak nangis” sahut si Centil
          “Modem?” ulang ibu.
          “Iya buuu. Modem.  Item ngambil di lemari ibu pake kunci yang di atas lemari itu.”
          Duarrrrr… bagaikan hantaman batu keras menghujam jantungku (berlebihan).  Aku ingin sekali tertawa karena kepolosan si Centil (lagi-lagi).  Bahkan bisa saja menangis lagi untuk kesekian kalinya hari ini.  Bagaimana ini? Ibu tahu bahwa kami sudah mengetahui keberadaan si modem. Dan berarti apa? Berarti modem akan dijauhkan dari jangkauan kami.  Oh, yeaaaaah.  Lagi-lagi because of her.
          Akhirnya ibu mengomeli si Hitam dengan perilaku mencurinya itu.  Aku pun agak senang si Hitam dimarahi ibu atas perlakuannya pada siang hari itu.  Tapi tetap saja, si Centil menambah ‘warna’ baru dalam kesialanku hari ini.  Oh, big thanks buatmu, adikku.  Teruslah mengadu…

0 komentar:

Post a Comment