RSS

Aku, Si Hitam, dan Si Centil (PART II)


Setelah insiden memulaskan yang melibatkan si remote tv, sekarang giliran modem internet kami yang jadi perantara si Centil bersikap sangaaaaaat polos.  Let’s check this out!
          Siang itu adalah siang yang saaaaaaaaaaaangat terik.  Semakin hari, si Bumi semakin panas.  Panasnya Bumi pun ikut mempengaruhi mood-ku siang hari itu.  Malam sebelumnya, aku memang kurang tidur.  Tak sampai 8 jam aku tidur.  Pagi harinya, pada jam pertama di sekolah adalah jam olahraga.  Temanku member perintah untuk lari memutari lapangan sekolah yang sangat luas (menurutku) sebanyak tiga kali.  Errr… biasanya hanya dua kali putaran.  Kenapa saat aku tidur kurang dari delapan jam harus lari tiga kali? Kenapa tidak sekali saja? Nice.
          Saat berlari untuk yang kedua kalinya, mataku sudah mulai berkunang-kunang karena rasa kantuk yang tak tertahankan.  Akhirnya aku pun terjatuh di depan barisan sehingga menghalangi pelari lainnya.  Wow, betapa buruknya awal hariku saat itu.
          Berjam-jam di sekolah dengan terkantuk-kantuk bukan hal yang baik.  Sangat mempengaruhi moodku.  Hingga saat pulang dan sampai di depan pintu rumah, aku pun masih merasa kesal karena kurang tidur dan terjatuh dengan cara yang sangat memalukan.
          Begitu masuk di ambang pintu kamar, kulihat si Hitam dan si Centil sedang bermain laptop.  Si Hitam menggunakan laptop milikku, sementara si Centil menggunakan laptop milik ayah.  Begitu kulihat si Hitam sedang browsing.  Aku sangaaaaaaaaaaat addicted alias kecanduan dengan sesuatu berbau internet.  Facebook, Twitter, Blogger, Yahoo Messenger.  Mood-ku yang sangat buruk mendorongku untuk merebut modem itu dari si Hitam.  Aku ingin twitting, blogging, ym-ing.  Akan sangat membantu jika aku bisa browsing sejenak lalu tidur.  Tapi nyatanya, rencanaku tak berjalan mulus.  Si Hitam ogah-ogahan memberikan modem hitam kecil itu padaku.  Ia memakiku dengan kata-kata kasar.  Aku yang memang moodnya sangat buruk langsung menghamburkan diri ke kamarku.  Aku pun menangis.  Bukan hanya soal modem itu.  Tapi semua kejadian buruk yang aku alami hari itu.  Air mata itu keluar dengan sendirinya dari tempat persembunyiannya.  Si Centil pun datang dan menghiburku.  Ia tak tahu apapun yang terjadi padaku hari itu.  Ia hanya tahu bahwa aku menangis karena si Hitam menolak memberi modem dan memakiku.  Yaaaah, saat itu kupikir biarlah si Centil mengetahui hal itu saja dari sekian banyak hal buruk yang terjadi hari itu.  Si Centil tidak perlu tahu bahwa hari itu aku sudah mempermalukan diri sendiri dengan terjatuh di lapangan.  Ia tidak perlu tahu bahwa hari itu teman terbaikku ‘hilang’.  Tidak.  Yaaaaa.  Tidak perlu tahu.
          Setelah lelah menangisi hari itu (suatu hal yang sangat sia-sia setelah kupikir-pikir), aku pun tertidur hingga sore hari menjelang maghrib.  Saat terbangun dan sadar bahwa sebentar lagi ibu akan sampai di rumah setelah pulang dari kantor, aku pun terburu-buru berlari menyambar handuk oranye dan masuk ke dalam kamar mandi.  Ketika kulihat di cermin, ternyata mataku bengkak.  Nice.
          Ibu pun sampai di rumah tanpa kudengar klakson mobil mungkin karena aku saking asiknya di kamar mandi.  Aku pun berdandan sedikit lalu keluar kamar untuk makan malam.  Ibu yang menyadari ada yang aneh denganku mulai menanyakan perihal mata bengkakku.  Aku pun terdiam cukup lama untuk merenungi harus menjawab apa. Jika kujawab bahwa kami berebut menggunakan modem, matilah kami.  Saat hari sekolah, modem disimpan di tempat rahasia ibu.  Tentu kami tak boleh tahu.  Si Hitam mengambil modem tersebut secara sembunyi-sembunyi dari lemari ibu (bisa dibilang mencuri).  Kalau hal itu ketahuan, bisa-bisa tempat penyimpanan modem dijauhkan dari jangkauan kami.  Hening di meja makan menunggu jawabanku.  Si Centil pun menjawab,
          “Ituuuu… kakak pada berantem rebutan modem.  Si Item nggak mau ngasih modemnya ke kakak.” Hening.  Ibu pun hanya bertanya, “Modem?”
          “Iya, modem.  Item nggak ngasih ke kakak, makanya kakak nangis” sahut si Centil
          “Modem?” ulang ibu.
          “Iya buuu. Modem.  Item ngambil di lemari ibu pake kunci yang di atas lemari itu.”
          Duarrrrr… bagaikan hantaman batu keras menghujam jantungku (berlebihan).  Aku ingin sekali tertawa karena kepolosan si Centil (lagi-lagi).  Bahkan bisa saja menangis lagi untuk kesekian kalinya hari ini.  Bagaimana ini? Ibu tahu bahwa kami sudah mengetahui keberadaan si modem. Dan berarti apa? Berarti modem akan dijauhkan dari jangkauan kami.  Oh, yeaaaaah.  Lagi-lagi because of her.
          Akhirnya ibu mengomeli si Hitam dengan perilaku mencurinya itu.  Aku pun agak senang si Hitam dimarahi ibu atas perlakuannya pada siang hari itu.  Tapi tetap saja, si Centil menambah ‘warna’ baru dalam kesialanku hari ini.  Oh, big thanks buatmu, adikku.  Teruslah mengadu…

Aku, Si Hitam, dan Si Centil (PART I)


Di suatu sore yang mendung, adikku yang usianya terpaut 2 tahun di bawahku ‘menghilangkan’ remote control televisi kami.  Kenapa aku membubuhkan tanda petik pada kata menghilangkan? Karena remote itu tidak mungkin dan memang tidak hilang.  Si Hitam (sebut saja nama adikku yang ceroboh ini seperti itu) ternyata lupa menaruhnya di mana.  Ia sudah kalang kabut.  Si Hitam takut ayah akan memarahinya.  Maka dari itu ia ‘berkompromi’ denganku dan si Centil (si bungsu).
“Pokoknya kalo ayah nanya di mana remote tipi, bilang aja ‘Gak tau, yah’” jelas si Hitam.
Kenapa si Hitam harus sebegitu tergesa-gesa? Mmmm.. well.. ayah kami pemarah.  Hanya itu alasannya.  Tapi kalau beliau sudah marah… hmm…
Mmmm back to topic, jadi setelah si Hitam mengultimatum kami berdua, kami pun mengiyakan ultimatum tersebut.  Bagaimanapun juga kami tidak ingin membuat ayah marah.
Nah, 10 menit setelah persetujuan itu, suara klakson mobil berbunyi di luar.  Itu ayah! Ayah pulang! Wow.  It’s show time! Berakting.  Begitu masuk ke ruang tengah, jantungku dan si Hitam berdegup cepat (si Centil masih 4 tahun dan aku ragu kalau ia juga mengerti situasi ‘genting’ seperti ini).
Dari ruang tengah ayah memanggil nama si Centil.  Aku dan si Hitam bertukarpandang di kamar, mendengar suara yang amat lantang itu.  Karena merasa dipanggil, si Centil pun keluar dari ‘persembunyian’ dan menghampiri ayah yang ternyata membawakan boneka Barbie ke ruang tengah.
Si Centil terdengar girang mendapat boneka pirang berbaju mahal itu.  Aku dan si Hitam hanya berdo’a semoga malam cepat datang sehingga kami bisa tidur dan mengunci kamar tanpa perlu diinterogasi di mana remote tv kami.  Tapi ternyata keadaan bertambah buruk sore itu.  Begitu si Centil keluar kamar dan menghampiri Barbie barunya, ia mengatakan sesuatu dengan sangaaaaaat riangnya.  Saking riangnya membuat wajahku dan si Hitam pucat pasi.
“Ayaaaaaaah, aku nggak tau di mana remote tv nya” teriak si Centil
Woooooooooow… Pucat. Jantung berdegup cepat.  Perut pun mulas.  Ayah pun curiga.  Beliau BELUM menanyakan di mana remote tv (sesuai ultimatum), tapi si Centil sudah menjawab.  Ayah pasti akan mencurigai ‘makna’ polos dibalik kata-kata si Centil.  Akhirnya dicarinya si remote tv di atas buffet kayu di depan tv (tempat remote biasa stand by) tapi hasilnya nihil.  Melihat tak ada remote di atas meja kayu itu, ayah pun geram dan memanggil kami berdua.
Aku dan si Hitam pun keluar dari persembunyian.  Bingung ingin tertawa karena kepolosan si Centil atau harus menangis karena mungkin kami akan dimarahi dengan suara paling kuat ala orang Sumatera.
Yaaaah, eng ing eng… sudah tertebak.  Jdueeeerrrr, kami berdua dimarahi dan disuruh mencari di mana remote tv itu berada.  Andai itu handphone… kami bisa miscall dia (si remote) kan.  Hhhh… tapi itu hanya pengandaian.
Akhirnya kami ‘berangkat’ mencari ke seluruh penjuru rumah dan tidak menemukan remote di manapun.  Putus asa, pastinya.  Finally, aku memakai cara lamaku untuk mengingat sesuatu.  Tenang, lalu ingat.  Yap! Cara yang sangaaaat manjur.  Kuperintahkan si Hitam berbaring dan merasa santai sejenak sementara ayah sedang mandi.  Lalu kuajak ia mengingat-ingat secara perlahan di mana remote itu ia letakkan.  Dan hasilnya? Dahsyat! Ia tidak ingat.  Suatu keputusasaan luar biasa melanda saat itu.  Metode ini tak berhasil untuknya.  Yeah, kami memang berbeda dalam urusan ingatan.  Ingatanku lebih kuat dari si Hitam, namun mie masakan si Hitam lebih enak dari masakanku. Ha! Who cares
Si Hitam pun memutuskan untuk mandi sore dan menggunakan kamar mandi belakang.  Ayah, yang mandi terlebih dahulu tentu keluar kamar mandi lebih dahulu dibanding si Hitam.  Aku pergi ke kamar dan melanjutkan belajarku yang tertunda karena ultimatum si Hitam.  Ayah pun mengecek keadaanku di kamar dan mendapatiku sedang belajar.  Mungkin beliau ingin marah-marah lagi tapi tak bisa karena melihatku sedang belajar.
Setengah jam di kamar mandi membuat si Hitam jauh lebih santai.  Begitu ia membuka lemari bajunya… eng ing eeeeeeeeeeeng… remote itu DI SANA! DI LEMARI ITU!  Wow, nice.  Perutku sangat mulas karena dimarahi hanya untuk remote yang ternyata ‘tersangkut’ di lemari baju.  Very nice.
Akhirnya kami berdua berjingkat-jingkat dan cepat-cepat menunjukkan barang menghebohkan itu pada ayah sambil melontarkan pandangan ala setan di sinetron kepada si Centil.
Pelajaran yang aku dan si Hitam dapat hari itu adalah: JANGAN PERNAH BERKOMPROMI DEGAN SI CENTIL GARIS MIRING ANAK BERUSIA BALITA!!!!!!!!!!!
Yeah, takkan pernah!!

Aku Ingin Jadi Pegawai Bank


Aku ingin menjadi pegawai bank
Kenapa begitu?
Aku ingin dompetku terisi dengan uang-uang yang halus
Tanpa lipatan di setiap sudutnya
Terisi dengan aroma wangi uang baru

Surat Cinta untuk Negeri

well, sebenernya ini dibuat udah lamaaaaaaa banget pas SMP.  Ini buat lomba membuat surat cinta sih sebenenya. Tapi aku gak menang hehew
Bandar Lampung, 05 November 2008
Kepada yang tersayang,
Indonesia ku tercinta
                Salam sayang,
Indonesiaku yang sangat kucintai, kusayangi, dan kubanggakan… Aku sebenarnya tidak pandai membuat surat cinta apalagi di zaman sekarang dengan segala kemajuan teknologi, sosial, dan budaya atau efek globalisasi.  Semuanya serba SMS dan e-mail. Bahkan ada yang nilainya di bawah standar ketuntasan belajar dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat disuruh menulis surat. Bu Zul, guru Bahasa Lampung kami pun berkata:
“Boleh ngikutin jaman.  Pakai bahasa Inggris, pakai bahasa Jepang, atau bahasa Prancis… Tapi jangan lupa bahasa ibu sendiri!!! Pokoknya kalau ibu masuk kalian pakai bahasa Lampung kalo nggak bahasa Indonesia aja!”.
Bu Zul mengatakannya dengan berapi-api karena kami selalu mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Inggris saat beliau masuk ke kelas.  Dan Bu Zul sangat menjunjung tinggi menggunakan bahasa daerah dan bahasa nasional.
Bahkan pernah pada tahun pertama di kelas Bilingual alias kelas yang menggunakan dua bahasa dalam belajar, nilai Bahasa Indonesia jauh lebih rendah dari nilai Bahasa Inggris.  Suatu pukulan yang keras bagi kami semua. Istilahnya: “Orang Indonesia kok nggak bisa bahasa Indonesia?”
Di tahun terakhir kami di SMPN 2 Bandar Lampung ini, guru Bahasa Indonesia kami, Bu Atun menegaskan bahwa bahasa merupakan salah satu cara untuk kita berkomunikasi selain dengan bahasa tubuh (kata Bu Atun, semua anggota tubuh itu bisa berbicara). Jadi bahasa Indonesia adalah salah satu media komunikasi dalam mempersatukan bangsa ini (tentu saja. Bagaimana mungkin saat perang merebut kemerdekaan berlangsung masih sempat memberi komando dengan bahasa tubuh?). Tapi seolah lupa atau melupakan, terkadang kita lebih fasih menggunakan bahasa asing. Bahkan sampai harus menguras kantong orang tua untuk les bahasa asing. Pernahkah mendengar ada banyak orang ingin menguras uang orang tua mereka untuk les Bahasa Indonesia? Mungkin ada. Tapi tak banyak.
Jika ditelaah lagi, justru bahasa kita, bahasa Indonesia juga pantas diunggulkan dengan bahasa asing lain. Orang yang pertama kali menyadari hal itu adalah guru matematika kami, Pak Dwi Warto.
“Kata orang Inggris, baca huruf H itu ya eitc.  Tapi kalau ketemu hotel ya dibilangnya ‘hotel’ bukan ‘eitc-o-ti-i-el’.  Payah!!!”
Wuw… benar juga.  Adakah turis mancanegara yang bilang akan menginap di “Eitcotiel”?
Maka lambat laun kami mulai menyadari pentingnya bahasa Indonesia. Bahkan di beberapa tempat les sudah ada les Bahasa Indonesia dan kebanyakan dari siswa-siswi 9E, kelasku mengambil les itu juga sebagai les pokok yang tidak bisa dianggap remeh atau sebelah mata.
Bangsa kita lahir dari sebuah revolusi bangsa sendiri, satu-satunya bangsa yang merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata.  Maka apakah pantas kita sebagai generasi penerus bangsa menyingkirkan bahasa Indonesia dari kehidupan sementara bahasa negara adalah Bahasa Indonesia yang juga merupakan alat pemersatu bangsa? Kurasa jika kita paham benar akan perjuangan para pahlawan kita akan menggunakan bahasa Indonesia bersama dengan bahasa Inggris dan bahasa lainnya.
Ternyata selain bahasa Indonesia yang hampir ‘tersingkir’ dari kehidupan para pemuda pemudi, kuliner Indonesia juga begitu.  Hampir tersingkir.
Enam dari sepuluh anak mengaku lebih menyukai makan pizza daripada makan pecel.  Padahal jika mereka mau survey, makan pecel lebih “maknyus” dan kenyang daripada makan pizza.
Nah… Sekarang aku ingin menceritakan tentang sahabat-sahabatku atau “ce-es kental” kalau istilah kami, yang cukup peduli dengan bahasa dan kuliner Indonesia.  Kami ber-enam (aku, Almira, Dea, Amel, Fina, dan Uti) memang bukan Laskar Pelangi yang terkenal, kami hanya pelajar SMP yang punya cita rasa cukup tinggi terhadap kuliner Indonesia khususnya pecel dan soto. Tiap hari Jum’at kami seliweran Bandar Lampung untuk berwisata kuliner (itu juga tergantung uang tabungan kami dari hari Senin-Kamis).
Kuliner Indonesia yang kami cicipi setiap hari Jum’at setidaknya lebih nikmat dari zaman penjajahan dulu.  Kata nenek, dulu orang Indonesia disuruh makan buah jarak yang biasanya digunakan untuk minyak pelumas pesawat terbang dan bekicot.  Lalu beras? Beras sudah dicuri para serdadu Jepang untuk bekal di medan perang.  Uuh… Sadis sekali para penjajah itu.
Selain sehati dalam hal kuliner, kami sangat senang membahas pemilu.  Mulai dari calon hingga partai politik yang berkoalisi.  Hanya saja, kami tetaplah anak SMP yang membahas inti cerita saja.  Tidak sampai ke detil-detilnya. Untuk mendiskusikan hal ini, kami tidak hanya ber-enam.  Tapi seluruh generasi biling terakhir (panggilan beken kelas kami) pun ikut berbincang menuangkan pendapat.  Apalagi kalau membahas mengenai KKN.  Wuih…  Suara kami bisa sampai ke kantor guru.  Sangat antusias.  Mulai dari mengejek koruptor sampai menyumpahi para koruptor tersebut (aku tidak akan memberitahunya karena mungkin Ivan, teman sekelasku akan di penjara nantinya karena menyumpahi si koruptor paling banyak, paling kasar, dan paling parah).  Tak hanya cukup dengan menyumpahi dan mengejek.  Kami, generasi biling terakhir pun berjanji tidak akan korupsi bila saatnya nanti kami benar-benar jadi “orang”.  Entahlah, aku tidak tahu itu akan terlaksana.  Tapi bila dilatih pasti bisa.  Dan guru-guru pun ikut serta  membina kami, generasi muda penerus bangsa untuk jujur dengan mendirikan “Kantin Kejujuran” di depan ruang musik.
Harga makanannya mulai dari lima ratus hingga seribu rupiah.  Untuk mempermudah membeli sebuah jajanan lima ratusan, kami menukarkan selembar uang seribu rupiah pada Bu Zul untuk dua koin lima ratus rupiah.
Yaaa… Mudah-mudahan saja “pelatihan” ini bisa menuntun kami menjadi “orang” yang jujur.  Amien.
Guru-guru tak hanya mendidik kecintaan kami pada Indonesia dengan kantin kejujuran.  Bu Marlena, guru PKn kami, misalnya.  Metode pembelajaran beliau adalah dalam setahun, siswa-siswinya harus mengetahui, hafal, dan mengamalkan UUD 1945 (tentu saja tidak sekaligus.  Bu Marlena menggunakan sistem angsuran).  Hasilnya sangat bagus.  Seluruh lulusan SMPN 2 Bandar Lampung hafal UUD 1945 dari pasal 1 hingga pasal 37.
Rasa cinta pada seseorang bisa ditunjukkan dengan apa saja.  Termasuk rela berkorban.  Guru-guruku rela mengorbankan waktu untuk meluangkan waktu mendirikan “Kantin Kejujuran” demi melatih siswa-siswinya agar jadi orang yang jujur, kami pun rela untuk dimarahi karena berjanji dengan antusias unuk mengkhawatirkan dan memajukan bangsa.
Kalimat-kalimat yang kuucapkan mungkin kurang puitis dan indah.  Tapi aku hanya ingin menyampaikan perasaan bangga dan cinta untukmu, Indonesiaku.
                Dan terimalah tanda cintaku. Dari kami, sebuah cinta, untukmu, Indonesiaku.
Salam penuh cinta
Muthia Khairunnisa

Cerpen


Kekurangan Untuk Menyayangi
oleh Muthia Khairunnisa Hapsari

            Seorang guru juga manusia.  Pasti punya beberapa kekurangan dan ada beberapa sisi dari manusia yang kurang disukai dan bisa diterima manusia lain.  Sebelum bercerita tentang betapa sayangnya aku dan teman-teman pada guruku, boleh aku mengeluarkan sedikit unek-unekku?
Morning, Sir!” kata-kata itu selalu menyertai kami selama tiga tahun.  Tiap tahunnya kami mengucapkan kata-kata tersebut dengan intonasi yang berbeda-beda.  Pada tahun pertama, kami mengucapkannya dengan lantang dan semangat.  Lalu pada tahun kedua kami mengucapkannya dengan nada yang ‘biasa aja’. Sedangkan pada tahun ketiga sekolah di SMPN 2 Bandar Lampung ini, kami mengucapkannya dengan malas tak bersemangat.  Kami bosan.  Tiga tahun berturut-turut kami hanya diajar oleh seorang guru matematika berambut putih yang gemar mengkhayal, kutu buku dan agak sombong.
            Hampir lupa, nama guru yang beruntung karena mendapat perhatian lebih dari kami adalah Pak Dwi Warto atau akrabnya dipanggil Pak Dwi, guru matematika terbaik di sekolah kami, menurutku.
Pak Dwi ingin semua muridnya tidak menyontek, mau mengantarkan anak didiknya ke perlombaan dengan motor vespa merah-nya, ingin melihat anak didiknya memenangkan perlombaan itu, mau mengajarkan dan melihat muridnya lulus dengan pengetahuan yang berguna serta kata ingin dan mau lainnya yang banyak diimpikan para guru pada umumnya.
            Tapi bagaimana kalau ingin masuk neraka?
Wow...  Mengejutkan memang.  Mungkin kita akan bilang “gedubrak dot kom atau istighfar dot tobat dot net deh!!!”.  Tapi aku dan seluruh teman-temanku bersaksi kalau beliau mengatakan hal tersebut dengan lantang, jelas, dan tidak ada bunyi “nuuut” seperti suara yang di sensor.
“Kalian mau masuk surga? Kalau saya mah kepengen masuk neraka sama artis-artis!!!” Huh.  Kaget, terkejut, shock, or whatever-lah.  Beliau mengatakan seperti bercanda.  Sangat ringan dan renyah.  Maka awalnya kami pun tertawa.  Tapi beliau mengulangi kalimat-kalimat mengejutkan itu beberapa kali selama tiga tahun mengajar kami.  Yep, mungkin kami sudah kehilangan rasa terkejut mendengar kalimat itu.  Rasa terkejut itu berubah menjadi rasa penasaran.  Sampai sekarang kami masih bingung apakah beliau benar-benar berkomitmen seperti itu.  Suatu komitmen yang tidak logis mengingat neraka itu sangat amat panas pastinya.  Apakah ada orang lain yang ingin masuk neraka selain Pak Dwi?
Pak Dwi memiliki kebiasaan mengkhayal saat mengajar maupun saat sedang rapat penting membahas hal yang sangat penting pula.  Beliau selalu membuat coretan rumus matematika yang baru dengan mengkhayal.  Yaaah...  Setidaknya mengkhayal dan menulis rumus matematika yang baru lebih baik daripada melukis wajah salah seorang guru yang sedang memimpin rapat.
Banyak hal yang ada di angan-angan Pak Dwi.  Salah satu yang menggelikan menurutku dan teman sebangkuku waktu itu adalah saat beliau bercerita tentang pengalamannya naik kapal laut.  Kami kira pengalaman itu adalah mabuk perjalanan yang biasa.  Tapi ternyata kami salah.  Tahu tidak apa yang Pak Dwi lakukan di dalam sana?  Bukan melihat pemandangan di luar jendela.  Tapi beliau sibuk dengan hitung-hitungan rumus dan sebagainya.  Memperkirakan bagaimana cara mesin-mesin tersebut bekerja, apakah ini begini dan begitu ya begitu.  Jika aku yang travelling, aku tidak akan mencari tahu bagaiman jalannya mesin dan sebagainya.  Menikmati perjalanan, mendengarkan lagu David Archuleta dari handphone-ku berulang kali atau tidur akan kupilih daripada mempercepat proses kegilaan dengan meneliti jalannya mesin kapal.  Ooohhh...  Mual sekali aku jika saja Pak Dwi memberi kami tugas seperti itu.
Nah... Mungkin di paragraf ini aku akan berhenti mengeluarkan unek-unekku.  Untuk terakhir kali, aku akan memberitahu cara menghukum ala Pak Dwi.  Saat kondisi Pak Dwi dalam titik didih, beliau jarang berkata kasar atau main tangan.  Apa yang Pak Dwi lakukan? Tanpa diduga, Pak Dwi mengajak kami ke lapangan untuk ‘pemanasan’.  Pak Dwi memberi latihan karate selama dua jam.  OMG, siapa yang menduga? Hukuman yang memang agak konyol.  Tapi setidaknya tidak ada celotehan atau kontak fisik dari Pak Dwi.
Sekarang, mari bicarakan tentang segala sesuatu mengenai sisi lain Pak Dwi sebagai guru yang disenangi.
Sekolah kami adalah Sekolah Bertaraf Internasional alias SBI.  Semua guru dituntut untuk bisa berbahasa Inggris.  Dalam hal ini, kami bangga punya wali kelas yang hebat seperti Pak Dwi.  Bahasa Inggris Pak Dwi sangat lancar.  Terkadang beliau juga mengajarkan kami beberapa kosakata baru yang tidak kami dapat sebelumnya dari guru bahasa Inggris kami.  Kami takjub melihat dan mendengar kata-katanya yang pas.  Tapi setelah lama kenal, kami juga mendapati sisi kekurangan seorang manusia.  Beliau ternyata agak sombong karena memiliki banyak ilmu.  Bahkan tidak jarang beliau mengejek salah satu teman sekelasku yang malas dan sulit dalam menerima pelajaran.
Selain rajin berkhayal dan pintar dalam ilmu matematika serta bahasa Inggris, Pak Dwi juga kutu buku.  Beliau membaca semua buku untuk segala usia.  Mulai dari novel hingga buku-buku ilmu kedokteran dibabat habis dalam waktu singkat.  Pak Dwi mempelajari segala sesuatu sendiri melalui buku.  Wew...  Takjub!
Yang membuat kami terdiam dan agak malu adalah saat Pak Dwi mengatakan “Jangan nyontek!!!” dengan intonasi yang merendahkan seorang tukang contek.  Pak Dwi bukan tukang contek maupun pecinta contekkan saat tes.  Beliau pernah menceritakan bahwa beliau pernah tidak lulus saat mengikuti ujian.  Lalu bagaimana bisa seperti sekarang? Beliau hanya menjawab “Berusaha dan nggak pernah nyontek”.  Satu kalimat yang kami yakini memiliki makna yang sangat berarti.  Kata ‘berusaha’ yang Pak Dwi lakukan pasti banyak sekali hingga menjadi seorang yang berpengetahuan cukup luas dibanding guru lainnya yang pernah kukenal.  Mungkin aku bisa menerima hal ‘berusaha’ dan percaya diri ini sebagai contoh dalam kehidupanku untuk hari ini dan esok agar menjadi orang yang sukses dan berwawasan luas.
Pak Dwi juga ‘jagonya’ main catur.  Kami juga pernah diberi ilmu olehnya mengenai beberapa strategi dari yang mudah dimengerti hingga ke strategi yang rumit.
Bersama Pak Dwi serasa menyenangkan apabila tidak membahas soal-soal matematika.  Diskusi tentang catur, cara kerja mesin, perputaran planet, pengalaman Pak Dwi di masa lalu dan lain sebagainya membuat kami lebih santai.  Pak Dwi juga seperti itu.  Santai.  Wajahnya seperti anak kecil yang menceritakan sesuatu pada teman-temannya.

Jika Miley Cyrus memiliki 7 things yang ia benci dari kekasihnya (keangkuhannya, permainannya, kegelisahannya, cintanya pada Miley dan perempuan lain, membuat Miley tertawa dan membuat Miley menangis), maka kami juga punya 7 things yang kami benci dari Pak Dwi.  Want to know?
1.  His vain (kesombongannya)
2.  His pink handphone (ponsel merah muda miliknya)
3.  His mockery (ejekannya)
4.  His difficult test (ulangan yang susah)
5.  His tidy hand writing (tulisan tangannya yang rapi)
6.  His carelessness (sikap acuhnya)
Upsss...  Ternyata aku melupakan sesuatu.  Miley Cyrus baru mengucapkan enam hal yang ia benci dari kekasihnya.  Pada akhir lirik, Miley mengatakan bahwa satu hal yang membuatnya benci adalah “You make me love you”.  Miley sudah jatuh cinta pada kekasihnya itu meskipun kekasihnya bukan seseorang yang setia.
Satu hal lagi yang membuat kami kurang menyukai Pak Dwi.  Mungkin sama dengan Miley Cyrus.  Hal yang ke tujuh.
Pak Dwi membuat kami menyayanginya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.  Untuk apa kami membencinya dan melihat Pak Dwi dari sisi kekurangannya saja sementara beliau selalu ‘setia’ menemani kami dari kelas satu SMP?  Beliau sudah tahu semua sifat-sifat kami, cara menghibur kami, cara belajar kami dan sebagainya meskipun terkadang beliau lebih bersikap acuh terhadap kepentingan kelas kami.
And the 7th  thing I hate the most that you do
 You make us love you...