Setelah
insiden memulaskan yang melibatkan si remote tv, sekarang giliran modem
internet kami yang jadi perantara si Centil bersikap sangaaaaaat polos. Let’s
check this out!
Siang itu adalah siang yang
saaaaaaaaaaaangat terik. Semakin hari,
si Bumi semakin panas. Panasnya Bumi pun
ikut mempengaruhi mood-ku siang hari
itu. Malam sebelumnya, aku memang kurang
tidur. Tak sampai 8 jam aku tidur. Pagi harinya, pada jam pertama di sekolah
adalah jam olahraga. Temanku member
perintah untuk lari memutari lapangan sekolah yang sangat luas (menurutku)
sebanyak tiga kali. Errr… biasanya hanya
dua kali putaran. Kenapa saat aku tidur
kurang dari delapan jam harus lari tiga kali? Kenapa tidak sekali saja? Nice.
Saat berlari untuk yang kedua kalinya,
mataku sudah mulai berkunang-kunang karena rasa kantuk yang tak
tertahankan. Akhirnya aku pun terjatuh
di depan barisan sehingga menghalangi pelari lainnya. Wow, betapa buruknya awal hariku saat itu.
Berjam-jam di sekolah dengan
terkantuk-kantuk bukan hal yang baik.
Sangat mempengaruhi moodku. Hingga saat pulang dan sampai di depan pintu
rumah, aku pun masih merasa kesal karena kurang tidur dan terjatuh dengan cara
yang sangat memalukan.
Begitu masuk di ambang pintu kamar,
kulihat si Hitam dan si Centil sedang bermain laptop. Si Hitam menggunakan laptop milikku,
sementara si Centil menggunakan laptop milik ayah. Begitu kulihat si Hitam sedang browsing. Aku sangaaaaaaaaaaat addicted alias kecanduan dengan sesuatu berbau internet. Facebook,
Twitter, Blogger, Yahoo Messenger. Mood-ku yang sangat buruk mendorongku
untuk merebut modem itu dari si Hitam.
Aku ingin twitting, blogging,
ym-ing. Akan sangat membantu jika
aku bisa browsing sejenak lalu
tidur. Tapi nyatanya, rencanaku tak
berjalan mulus. Si Hitam ogah-ogahan memberikan modem hitam kecil
itu padaku. Ia memakiku dengan kata-kata
kasar. Aku yang memang moodnya sangat buruk langsung
menghamburkan diri ke kamarku. Aku pun
menangis. Bukan hanya soal modem
itu. Tapi semua kejadian buruk yang aku
alami hari itu. Air mata itu keluar
dengan sendirinya dari tempat persembunyiannya.
Si Centil pun datang dan menghiburku.
Ia tak tahu apapun yang terjadi padaku hari itu. Ia hanya tahu bahwa aku menangis karena si
Hitam menolak memberi modem dan memakiku.
Yaaaah, saat itu kupikir biarlah si Centil mengetahui hal itu saja dari
sekian banyak hal buruk yang terjadi hari itu.
Si Centil tidak perlu tahu bahwa hari itu aku sudah mempermalukan diri
sendiri dengan terjatuh di lapangan. Ia
tidak perlu tahu bahwa hari itu teman terbaikku ‘hilang’. Tidak.
Yaaaaa. Tidak perlu tahu.
Setelah lelah menangisi hari itu
(suatu hal yang sangat sia-sia setelah kupikir-pikir), aku pun tertidur hingga
sore hari menjelang maghrib. Saat
terbangun dan sadar bahwa sebentar lagi ibu akan sampai di rumah setelah pulang
dari kantor, aku pun terburu-buru berlari menyambar handuk oranye dan masuk ke
dalam kamar mandi. Ketika kulihat di
cermin, ternyata mataku bengkak. Nice.
Ibu pun sampai di rumah tanpa kudengar
klakson mobil mungkin karena aku saking asiknya di kamar mandi. Aku pun berdandan sedikit lalu keluar kamar
untuk makan malam. Ibu yang menyadari
ada yang aneh denganku mulai menanyakan perihal mata bengkakku. Aku pun terdiam cukup lama untuk merenungi
harus menjawab apa. Jika kujawab bahwa kami berebut menggunakan modem, matilah
kami. Saat hari sekolah, modem disimpan
di tempat rahasia ibu. Tentu kami tak
boleh tahu. Si Hitam mengambil modem
tersebut secara sembunyi-sembunyi dari lemari ibu (bisa dibilang mencuri). Kalau hal itu ketahuan, bisa-bisa tempat
penyimpanan modem dijauhkan dari jangkauan kami. Hening di meja makan menunggu jawabanku. Si Centil pun menjawab,
“Ituuuu… kakak pada berantem rebutan
modem. Si Item nggak mau ngasih modemnya
ke kakak.” Hening. Ibu pun hanya
bertanya, “Modem?”
“Iya, modem. Item nggak ngasih ke kakak, makanya kakak
nangis” sahut si Centil
“Modem?” ulang ibu.
“Iya buuu. Modem. Item ngambil di lemari ibu pake kunci yang di
atas lemari itu.”
Duarrrrr… bagaikan hantaman batu keras
menghujam jantungku (berlebihan). Aku
ingin sekali tertawa karena kepolosan si Centil (lagi-lagi). Bahkan bisa saja menangis lagi untuk kesekian
kalinya hari ini. Bagaimana ini? Ibu
tahu bahwa kami sudah mengetahui keberadaan si modem. Dan berarti apa? Berarti
modem akan dijauhkan dari jangkauan kami.
Oh, yeaaaaah. Lagi-lagi because of her.
Akhirnya ibu mengomeli si Hitam dengan
perilaku mencurinya itu. Aku pun agak
senang si Hitam dimarahi ibu atas perlakuannya pada siang hari itu. Tapi tetap saja, si Centil menambah ‘warna’
baru dalam kesialanku hari ini. Oh, big thanks buatmu, adikku. Teruslah mengadu…
