RSS

Surat Cinta untuk Negeri

well, sebenernya ini dibuat udah lamaaaaaaa banget pas SMP.  Ini buat lomba membuat surat cinta sih sebenenya. Tapi aku gak menang hehew
Bandar Lampung, 05 November 2008
Kepada yang tersayang,
Indonesia ku tercinta
                Salam sayang,
Indonesiaku yang sangat kucintai, kusayangi, dan kubanggakan… Aku sebenarnya tidak pandai membuat surat cinta apalagi di zaman sekarang dengan segala kemajuan teknologi, sosial, dan budaya atau efek globalisasi.  Semuanya serba SMS dan e-mail. Bahkan ada yang nilainya di bawah standar ketuntasan belajar dalam pelajaran Bahasa Indonesia saat disuruh menulis surat. Bu Zul, guru Bahasa Lampung kami pun berkata:
“Boleh ngikutin jaman.  Pakai bahasa Inggris, pakai bahasa Jepang, atau bahasa Prancis… Tapi jangan lupa bahasa ibu sendiri!!! Pokoknya kalau ibu masuk kalian pakai bahasa Lampung kalo nggak bahasa Indonesia aja!”.
Bu Zul mengatakannya dengan berapi-api karena kami selalu mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Inggris saat beliau masuk ke kelas.  Dan Bu Zul sangat menjunjung tinggi menggunakan bahasa daerah dan bahasa nasional.
Bahkan pernah pada tahun pertama di kelas Bilingual alias kelas yang menggunakan dua bahasa dalam belajar, nilai Bahasa Indonesia jauh lebih rendah dari nilai Bahasa Inggris.  Suatu pukulan yang keras bagi kami semua. Istilahnya: “Orang Indonesia kok nggak bisa bahasa Indonesia?”
Di tahun terakhir kami di SMPN 2 Bandar Lampung ini, guru Bahasa Indonesia kami, Bu Atun menegaskan bahwa bahasa merupakan salah satu cara untuk kita berkomunikasi selain dengan bahasa tubuh (kata Bu Atun, semua anggota tubuh itu bisa berbicara). Jadi bahasa Indonesia adalah salah satu media komunikasi dalam mempersatukan bangsa ini (tentu saja. Bagaimana mungkin saat perang merebut kemerdekaan berlangsung masih sempat memberi komando dengan bahasa tubuh?). Tapi seolah lupa atau melupakan, terkadang kita lebih fasih menggunakan bahasa asing. Bahkan sampai harus menguras kantong orang tua untuk les bahasa asing. Pernahkah mendengar ada banyak orang ingin menguras uang orang tua mereka untuk les Bahasa Indonesia? Mungkin ada. Tapi tak banyak.
Jika ditelaah lagi, justru bahasa kita, bahasa Indonesia juga pantas diunggulkan dengan bahasa asing lain. Orang yang pertama kali menyadari hal itu adalah guru matematika kami, Pak Dwi Warto.
“Kata orang Inggris, baca huruf H itu ya eitc.  Tapi kalau ketemu hotel ya dibilangnya ‘hotel’ bukan ‘eitc-o-ti-i-el’.  Payah!!!”
Wuw… benar juga.  Adakah turis mancanegara yang bilang akan menginap di “Eitcotiel”?
Maka lambat laun kami mulai menyadari pentingnya bahasa Indonesia. Bahkan di beberapa tempat les sudah ada les Bahasa Indonesia dan kebanyakan dari siswa-siswi 9E, kelasku mengambil les itu juga sebagai les pokok yang tidak bisa dianggap remeh atau sebelah mata.
Bangsa kita lahir dari sebuah revolusi bangsa sendiri, satu-satunya bangsa yang merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata.  Maka apakah pantas kita sebagai generasi penerus bangsa menyingkirkan bahasa Indonesia dari kehidupan sementara bahasa negara adalah Bahasa Indonesia yang juga merupakan alat pemersatu bangsa? Kurasa jika kita paham benar akan perjuangan para pahlawan kita akan menggunakan bahasa Indonesia bersama dengan bahasa Inggris dan bahasa lainnya.
Ternyata selain bahasa Indonesia yang hampir ‘tersingkir’ dari kehidupan para pemuda pemudi, kuliner Indonesia juga begitu.  Hampir tersingkir.
Enam dari sepuluh anak mengaku lebih menyukai makan pizza daripada makan pecel.  Padahal jika mereka mau survey, makan pecel lebih “maknyus” dan kenyang daripada makan pizza.
Nah… Sekarang aku ingin menceritakan tentang sahabat-sahabatku atau “ce-es kental” kalau istilah kami, yang cukup peduli dengan bahasa dan kuliner Indonesia.  Kami ber-enam (aku, Almira, Dea, Amel, Fina, dan Uti) memang bukan Laskar Pelangi yang terkenal, kami hanya pelajar SMP yang punya cita rasa cukup tinggi terhadap kuliner Indonesia khususnya pecel dan soto. Tiap hari Jum’at kami seliweran Bandar Lampung untuk berwisata kuliner (itu juga tergantung uang tabungan kami dari hari Senin-Kamis).
Kuliner Indonesia yang kami cicipi setiap hari Jum’at setidaknya lebih nikmat dari zaman penjajahan dulu.  Kata nenek, dulu orang Indonesia disuruh makan buah jarak yang biasanya digunakan untuk minyak pelumas pesawat terbang dan bekicot.  Lalu beras? Beras sudah dicuri para serdadu Jepang untuk bekal di medan perang.  Uuh… Sadis sekali para penjajah itu.
Selain sehati dalam hal kuliner, kami sangat senang membahas pemilu.  Mulai dari calon hingga partai politik yang berkoalisi.  Hanya saja, kami tetaplah anak SMP yang membahas inti cerita saja.  Tidak sampai ke detil-detilnya. Untuk mendiskusikan hal ini, kami tidak hanya ber-enam.  Tapi seluruh generasi biling terakhir (panggilan beken kelas kami) pun ikut berbincang menuangkan pendapat.  Apalagi kalau membahas mengenai KKN.  Wuih…  Suara kami bisa sampai ke kantor guru.  Sangat antusias.  Mulai dari mengejek koruptor sampai menyumpahi para koruptor tersebut (aku tidak akan memberitahunya karena mungkin Ivan, teman sekelasku akan di penjara nantinya karena menyumpahi si koruptor paling banyak, paling kasar, dan paling parah).  Tak hanya cukup dengan menyumpahi dan mengejek.  Kami, generasi biling terakhir pun berjanji tidak akan korupsi bila saatnya nanti kami benar-benar jadi “orang”.  Entahlah, aku tidak tahu itu akan terlaksana.  Tapi bila dilatih pasti bisa.  Dan guru-guru pun ikut serta  membina kami, generasi muda penerus bangsa untuk jujur dengan mendirikan “Kantin Kejujuran” di depan ruang musik.
Harga makanannya mulai dari lima ratus hingga seribu rupiah.  Untuk mempermudah membeli sebuah jajanan lima ratusan, kami menukarkan selembar uang seribu rupiah pada Bu Zul untuk dua koin lima ratus rupiah.
Yaaa… Mudah-mudahan saja “pelatihan” ini bisa menuntun kami menjadi “orang” yang jujur.  Amien.
Guru-guru tak hanya mendidik kecintaan kami pada Indonesia dengan kantin kejujuran.  Bu Marlena, guru PKn kami, misalnya.  Metode pembelajaran beliau adalah dalam setahun, siswa-siswinya harus mengetahui, hafal, dan mengamalkan UUD 1945 (tentu saja tidak sekaligus.  Bu Marlena menggunakan sistem angsuran).  Hasilnya sangat bagus.  Seluruh lulusan SMPN 2 Bandar Lampung hafal UUD 1945 dari pasal 1 hingga pasal 37.
Rasa cinta pada seseorang bisa ditunjukkan dengan apa saja.  Termasuk rela berkorban.  Guru-guruku rela mengorbankan waktu untuk meluangkan waktu mendirikan “Kantin Kejujuran” demi melatih siswa-siswinya agar jadi orang yang jujur, kami pun rela untuk dimarahi karena berjanji dengan antusias unuk mengkhawatirkan dan memajukan bangsa.
Kalimat-kalimat yang kuucapkan mungkin kurang puitis dan indah.  Tapi aku hanya ingin menyampaikan perasaan bangga dan cinta untukmu, Indonesiaku.
                Dan terimalah tanda cintaku. Dari kami, sebuah cinta, untukmu, Indonesiaku.
Salam penuh cinta
Muthia Khairunnisa