RSS

Cerpen


Kekurangan Untuk Menyayangi
oleh Muthia Khairunnisa Hapsari

            Seorang guru juga manusia.  Pasti punya beberapa kekurangan dan ada beberapa sisi dari manusia yang kurang disukai dan bisa diterima manusia lain.  Sebelum bercerita tentang betapa sayangnya aku dan teman-teman pada guruku, boleh aku mengeluarkan sedikit unek-unekku?
Morning, Sir!” kata-kata itu selalu menyertai kami selama tiga tahun.  Tiap tahunnya kami mengucapkan kata-kata tersebut dengan intonasi yang berbeda-beda.  Pada tahun pertama, kami mengucapkannya dengan lantang dan semangat.  Lalu pada tahun kedua kami mengucapkannya dengan nada yang ‘biasa aja’. Sedangkan pada tahun ketiga sekolah di SMPN 2 Bandar Lampung ini, kami mengucapkannya dengan malas tak bersemangat.  Kami bosan.  Tiga tahun berturut-turut kami hanya diajar oleh seorang guru matematika berambut putih yang gemar mengkhayal, kutu buku dan agak sombong.
            Hampir lupa, nama guru yang beruntung karena mendapat perhatian lebih dari kami adalah Pak Dwi Warto atau akrabnya dipanggil Pak Dwi, guru matematika terbaik di sekolah kami, menurutku.
Pak Dwi ingin semua muridnya tidak menyontek, mau mengantarkan anak didiknya ke perlombaan dengan motor vespa merah-nya, ingin melihat anak didiknya memenangkan perlombaan itu, mau mengajarkan dan melihat muridnya lulus dengan pengetahuan yang berguna serta kata ingin dan mau lainnya yang banyak diimpikan para guru pada umumnya.
            Tapi bagaimana kalau ingin masuk neraka?
Wow...  Mengejutkan memang.  Mungkin kita akan bilang “gedubrak dot kom atau istighfar dot tobat dot net deh!!!”.  Tapi aku dan seluruh teman-temanku bersaksi kalau beliau mengatakan hal tersebut dengan lantang, jelas, dan tidak ada bunyi “nuuut” seperti suara yang di sensor.
“Kalian mau masuk surga? Kalau saya mah kepengen masuk neraka sama artis-artis!!!” Huh.  Kaget, terkejut, shock, or whatever-lah.  Beliau mengatakan seperti bercanda.  Sangat ringan dan renyah.  Maka awalnya kami pun tertawa.  Tapi beliau mengulangi kalimat-kalimat mengejutkan itu beberapa kali selama tiga tahun mengajar kami.  Yep, mungkin kami sudah kehilangan rasa terkejut mendengar kalimat itu.  Rasa terkejut itu berubah menjadi rasa penasaran.  Sampai sekarang kami masih bingung apakah beliau benar-benar berkomitmen seperti itu.  Suatu komitmen yang tidak logis mengingat neraka itu sangat amat panas pastinya.  Apakah ada orang lain yang ingin masuk neraka selain Pak Dwi?
Pak Dwi memiliki kebiasaan mengkhayal saat mengajar maupun saat sedang rapat penting membahas hal yang sangat penting pula.  Beliau selalu membuat coretan rumus matematika yang baru dengan mengkhayal.  Yaaah...  Setidaknya mengkhayal dan menulis rumus matematika yang baru lebih baik daripada melukis wajah salah seorang guru yang sedang memimpin rapat.
Banyak hal yang ada di angan-angan Pak Dwi.  Salah satu yang menggelikan menurutku dan teman sebangkuku waktu itu adalah saat beliau bercerita tentang pengalamannya naik kapal laut.  Kami kira pengalaman itu adalah mabuk perjalanan yang biasa.  Tapi ternyata kami salah.  Tahu tidak apa yang Pak Dwi lakukan di dalam sana?  Bukan melihat pemandangan di luar jendela.  Tapi beliau sibuk dengan hitung-hitungan rumus dan sebagainya.  Memperkirakan bagaimana cara mesin-mesin tersebut bekerja, apakah ini begini dan begitu ya begitu.  Jika aku yang travelling, aku tidak akan mencari tahu bagaiman jalannya mesin dan sebagainya.  Menikmati perjalanan, mendengarkan lagu David Archuleta dari handphone-ku berulang kali atau tidur akan kupilih daripada mempercepat proses kegilaan dengan meneliti jalannya mesin kapal.  Ooohhh...  Mual sekali aku jika saja Pak Dwi memberi kami tugas seperti itu.
Nah... Mungkin di paragraf ini aku akan berhenti mengeluarkan unek-unekku.  Untuk terakhir kali, aku akan memberitahu cara menghukum ala Pak Dwi.  Saat kondisi Pak Dwi dalam titik didih, beliau jarang berkata kasar atau main tangan.  Apa yang Pak Dwi lakukan? Tanpa diduga, Pak Dwi mengajak kami ke lapangan untuk ‘pemanasan’.  Pak Dwi memberi latihan karate selama dua jam.  OMG, siapa yang menduga? Hukuman yang memang agak konyol.  Tapi setidaknya tidak ada celotehan atau kontak fisik dari Pak Dwi.
Sekarang, mari bicarakan tentang segala sesuatu mengenai sisi lain Pak Dwi sebagai guru yang disenangi.
Sekolah kami adalah Sekolah Bertaraf Internasional alias SBI.  Semua guru dituntut untuk bisa berbahasa Inggris.  Dalam hal ini, kami bangga punya wali kelas yang hebat seperti Pak Dwi.  Bahasa Inggris Pak Dwi sangat lancar.  Terkadang beliau juga mengajarkan kami beberapa kosakata baru yang tidak kami dapat sebelumnya dari guru bahasa Inggris kami.  Kami takjub melihat dan mendengar kata-katanya yang pas.  Tapi setelah lama kenal, kami juga mendapati sisi kekurangan seorang manusia.  Beliau ternyata agak sombong karena memiliki banyak ilmu.  Bahkan tidak jarang beliau mengejek salah satu teman sekelasku yang malas dan sulit dalam menerima pelajaran.
Selain rajin berkhayal dan pintar dalam ilmu matematika serta bahasa Inggris, Pak Dwi juga kutu buku.  Beliau membaca semua buku untuk segala usia.  Mulai dari novel hingga buku-buku ilmu kedokteran dibabat habis dalam waktu singkat.  Pak Dwi mempelajari segala sesuatu sendiri melalui buku.  Wew...  Takjub!
Yang membuat kami terdiam dan agak malu adalah saat Pak Dwi mengatakan “Jangan nyontek!!!” dengan intonasi yang merendahkan seorang tukang contek.  Pak Dwi bukan tukang contek maupun pecinta contekkan saat tes.  Beliau pernah menceritakan bahwa beliau pernah tidak lulus saat mengikuti ujian.  Lalu bagaimana bisa seperti sekarang? Beliau hanya menjawab “Berusaha dan nggak pernah nyontek”.  Satu kalimat yang kami yakini memiliki makna yang sangat berarti.  Kata ‘berusaha’ yang Pak Dwi lakukan pasti banyak sekali hingga menjadi seorang yang berpengetahuan cukup luas dibanding guru lainnya yang pernah kukenal.  Mungkin aku bisa menerima hal ‘berusaha’ dan percaya diri ini sebagai contoh dalam kehidupanku untuk hari ini dan esok agar menjadi orang yang sukses dan berwawasan luas.
Pak Dwi juga ‘jagonya’ main catur.  Kami juga pernah diberi ilmu olehnya mengenai beberapa strategi dari yang mudah dimengerti hingga ke strategi yang rumit.
Bersama Pak Dwi serasa menyenangkan apabila tidak membahas soal-soal matematika.  Diskusi tentang catur, cara kerja mesin, perputaran planet, pengalaman Pak Dwi di masa lalu dan lain sebagainya membuat kami lebih santai.  Pak Dwi juga seperti itu.  Santai.  Wajahnya seperti anak kecil yang menceritakan sesuatu pada teman-temannya.

Jika Miley Cyrus memiliki 7 things yang ia benci dari kekasihnya (keangkuhannya, permainannya, kegelisahannya, cintanya pada Miley dan perempuan lain, membuat Miley tertawa dan membuat Miley menangis), maka kami juga punya 7 things yang kami benci dari Pak Dwi.  Want to know?
1.  His vain (kesombongannya)
2.  His pink handphone (ponsel merah muda miliknya)
3.  His mockery (ejekannya)
4.  His difficult test (ulangan yang susah)
5.  His tidy hand writing (tulisan tangannya yang rapi)
6.  His carelessness (sikap acuhnya)
Upsss...  Ternyata aku melupakan sesuatu.  Miley Cyrus baru mengucapkan enam hal yang ia benci dari kekasihnya.  Pada akhir lirik, Miley mengatakan bahwa satu hal yang membuatnya benci adalah “You make me love you”.  Miley sudah jatuh cinta pada kekasihnya itu meskipun kekasihnya bukan seseorang yang setia.
Satu hal lagi yang membuat kami kurang menyukai Pak Dwi.  Mungkin sama dengan Miley Cyrus.  Hal yang ke tujuh.
Pak Dwi membuat kami menyayanginya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.  Untuk apa kami membencinya dan melihat Pak Dwi dari sisi kekurangannya saja sementara beliau selalu ‘setia’ menemani kami dari kelas satu SMP?  Beliau sudah tahu semua sifat-sifat kami, cara menghibur kami, cara belajar kami dan sebagainya meskipun terkadang beliau lebih bersikap acuh terhadap kepentingan kelas kami.
And the 7th  thing I hate the most that you do
 You make us love you...