RSS

Aku, Si Hitam, dan Si Centil (PART I)


Di suatu sore yang mendung, adikku yang usianya terpaut 2 tahun di bawahku ‘menghilangkan’ remote control televisi kami.  Kenapa aku membubuhkan tanda petik pada kata menghilangkan? Karena remote itu tidak mungkin dan memang tidak hilang.  Si Hitam (sebut saja nama adikku yang ceroboh ini seperti itu) ternyata lupa menaruhnya di mana.  Ia sudah kalang kabut.  Si Hitam takut ayah akan memarahinya.  Maka dari itu ia ‘berkompromi’ denganku dan si Centil (si bungsu).
“Pokoknya kalo ayah nanya di mana remote tipi, bilang aja ‘Gak tau, yah’” jelas si Hitam.
Kenapa si Hitam harus sebegitu tergesa-gesa? Mmmm.. well.. ayah kami pemarah.  Hanya itu alasannya.  Tapi kalau beliau sudah marah… hmm…
Mmmm back to topic, jadi setelah si Hitam mengultimatum kami berdua, kami pun mengiyakan ultimatum tersebut.  Bagaimanapun juga kami tidak ingin membuat ayah marah.
Nah, 10 menit setelah persetujuan itu, suara klakson mobil berbunyi di luar.  Itu ayah! Ayah pulang! Wow.  It’s show time! Berakting.  Begitu masuk ke ruang tengah, jantungku dan si Hitam berdegup cepat (si Centil masih 4 tahun dan aku ragu kalau ia juga mengerti situasi ‘genting’ seperti ini).
Dari ruang tengah ayah memanggil nama si Centil.  Aku dan si Hitam bertukarpandang di kamar, mendengar suara yang amat lantang itu.  Karena merasa dipanggil, si Centil pun keluar dari ‘persembunyian’ dan menghampiri ayah yang ternyata membawakan boneka Barbie ke ruang tengah.
Si Centil terdengar girang mendapat boneka pirang berbaju mahal itu.  Aku dan si Hitam hanya berdo’a semoga malam cepat datang sehingga kami bisa tidur dan mengunci kamar tanpa perlu diinterogasi di mana remote tv kami.  Tapi ternyata keadaan bertambah buruk sore itu.  Begitu si Centil keluar kamar dan menghampiri Barbie barunya, ia mengatakan sesuatu dengan sangaaaaaat riangnya.  Saking riangnya membuat wajahku dan si Hitam pucat pasi.
“Ayaaaaaaah, aku nggak tau di mana remote tv nya” teriak si Centil
Woooooooooow… Pucat. Jantung berdegup cepat.  Perut pun mulas.  Ayah pun curiga.  Beliau BELUM menanyakan di mana remote tv (sesuai ultimatum), tapi si Centil sudah menjawab.  Ayah pasti akan mencurigai ‘makna’ polos dibalik kata-kata si Centil.  Akhirnya dicarinya si remote tv di atas buffet kayu di depan tv (tempat remote biasa stand by) tapi hasilnya nihil.  Melihat tak ada remote di atas meja kayu itu, ayah pun geram dan memanggil kami berdua.
Aku dan si Hitam pun keluar dari persembunyian.  Bingung ingin tertawa karena kepolosan si Centil atau harus menangis karena mungkin kami akan dimarahi dengan suara paling kuat ala orang Sumatera.
Yaaaah, eng ing eng… sudah tertebak.  Jdueeeerrrr, kami berdua dimarahi dan disuruh mencari di mana remote tv itu berada.  Andai itu handphone… kami bisa miscall dia (si remote) kan.  Hhhh… tapi itu hanya pengandaian.
Akhirnya kami ‘berangkat’ mencari ke seluruh penjuru rumah dan tidak menemukan remote di manapun.  Putus asa, pastinya.  Finally, aku memakai cara lamaku untuk mengingat sesuatu.  Tenang, lalu ingat.  Yap! Cara yang sangaaaat manjur.  Kuperintahkan si Hitam berbaring dan merasa santai sejenak sementara ayah sedang mandi.  Lalu kuajak ia mengingat-ingat secara perlahan di mana remote itu ia letakkan.  Dan hasilnya? Dahsyat! Ia tidak ingat.  Suatu keputusasaan luar biasa melanda saat itu.  Metode ini tak berhasil untuknya.  Yeah, kami memang berbeda dalam urusan ingatan.  Ingatanku lebih kuat dari si Hitam, namun mie masakan si Hitam lebih enak dari masakanku. Ha! Who cares
Si Hitam pun memutuskan untuk mandi sore dan menggunakan kamar mandi belakang.  Ayah, yang mandi terlebih dahulu tentu keluar kamar mandi lebih dahulu dibanding si Hitam.  Aku pergi ke kamar dan melanjutkan belajarku yang tertunda karena ultimatum si Hitam.  Ayah pun mengecek keadaanku di kamar dan mendapatiku sedang belajar.  Mungkin beliau ingin marah-marah lagi tapi tak bisa karena melihatku sedang belajar.
Setengah jam di kamar mandi membuat si Hitam jauh lebih santai.  Begitu ia membuka lemari bajunya… eng ing eeeeeeeeeeeng… remote itu DI SANA! DI LEMARI ITU!  Wow, nice.  Perutku sangat mulas karena dimarahi hanya untuk remote yang ternyata ‘tersangkut’ di lemari baju.  Very nice.
Akhirnya kami berdua berjingkat-jingkat dan cepat-cepat menunjukkan barang menghebohkan itu pada ayah sambil melontarkan pandangan ala setan di sinetron kepada si Centil.
Pelajaran yang aku dan si Hitam dapat hari itu adalah: JANGAN PERNAH BERKOMPROMI DEGAN SI CENTIL GARIS MIRING ANAK BERUSIA BALITA!!!!!!!!!!!
Yeah, takkan pernah!!

0 komentar:

Post a Comment