Di suatu sore yang mendung,
adikku yang usianya terpaut 2 tahun di bawahku ‘menghilangkan’ remote control
televisi kami. Kenapa aku membubuhkan
tanda petik pada kata menghilangkan? Karena remote itu tidak mungkin dan memang
tidak hilang. Si Hitam (sebut saja nama
adikku yang ceroboh ini seperti itu) ternyata lupa menaruhnya di mana. Ia sudah kalang kabut. Si Hitam takut ayah akan memarahinya. Maka dari itu ia ‘berkompromi’ denganku dan
si Centil (si bungsu).
“Pokoknya kalo ayah nanya di mana
remote tipi, bilang aja ‘Gak tau, yah’” jelas si Hitam.
Kenapa si Hitam harus sebegitu tergesa-gesa? Mmmm.. well.. ayah kami pemarah. Hanya itu alasannya. Tapi kalau beliau sudah marah… hmm…
Mmmm back to topic, jadi
setelah si Hitam mengultimatum kami berdua, kami pun mengiyakan ultimatum
tersebut. Bagaimanapun juga kami tidak
ingin membuat ayah marah.
Nah, 10 menit setelah persetujuan
itu, suara klakson mobil berbunyi di luar.
Itu ayah! Ayah pulang! Wow. It’s show time! Berakting. Begitu masuk ke ruang tengah, jantungku dan
si Hitam berdegup cepat (si Centil masih 4 tahun dan aku ragu kalau ia juga
mengerti situasi ‘genting’ seperti ini).
Dari ruang tengah ayah memanggil
nama si Centil. Aku dan si Hitam
bertukarpandang di kamar, mendengar suara yang amat lantang itu. Karena merasa dipanggil, si Centil pun keluar
dari ‘persembunyian’ dan menghampiri ayah yang ternyata membawakan boneka Barbie ke ruang tengah.
Si Centil terdengar girang
mendapat boneka pirang berbaju mahal itu.
Aku dan si Hitam hanya berdo’a semoga malam cepat datang sehingga kami
bisa tidur dan mengunci kamar tanpa perlu diinterogasi di mana remote tv
kami. Tapi ternyata keadaan bertambah
buruk sore itu. Begitu si Centil keluar
kamar dan menghampiri Barbie barunya,
ia mengatakan sesuatu dengan sangaaaaaat riangnya. Saking riangnya membuat wajahku dan si Hitam
pucat pasi.
“Ayaaaaaaah, aku nggak tau di
mana remote tv nya” teriak si Centil
Woooooooooow… Pucat. Jantung
berdegup cepat. Perut pun mulas. Ayah pun curiga. Beliau BELUM menanyakan di mana remote tv
(sesuai ultimatum), tapi si Centil sudah menjawab. Ayah pasti akan mencurigai ‘makna’ polos
dibalik kata-kata si Centil. Akhirnya
dicarinya si remote tv di atas buffet kayu di depan tv (tempat remote biasa stand by) tapi hasilnya nihil. Melihat tak ada remote di atas meja kayu itu,
ayah pun geram dan memanggil kami berdua.
Aku dan si Hitam pun keluar dari
persembunyian. Bingung ingin tertawa
karena kepolosan si Centil atau harus menangis karena mungkin kami akan
dimarahi dengan suara paling kuat ala orang Sumatera.
Yaaaah, eng ing eng… sudah
tertebak. Jdueeeerrrr, kami berdua
dimarahi dan disuruh mencari di mana remote tv itu berada. Andai itu handphone…
kami bisa miscall dia (si remote)
kan. Hhhh… tapi itu hanya pengandaian.
Akhirnya kami ‘berangkat’ mencari
ke seluruh penjuru rumah dan tidak menemukan remote di manapun. Putus asa, pastinya. Finally,
aku memakai cara lamaku untuk mengingat sesuatu. Tenang, lalu ingat. Yap! Cara yang sangaaaat manjur. Kuperintahkan si Hitam berbaring dan merasa
santai sejenak sementara ayah sedang mandi.
Lalu kuajak ia mengingat-ingat secara perlahan di mana remote itu ia
letakkan. Dan hasilnya? Dahsyat! Ia
tidak ingat. Suatu keputusasaan luar
biasa melanda saat itu. Metode ini tak
berhasil untuknya. Yeah, kami memang berbeda dalam urusan ingatan. Ingatanku lebih kuat dari si Hitam, namun mie
masakan si Hitam lebih enak dari masakanku. Ha! Who cares
Si Hitam pun memutuskan untuk
mandi sore dan menggunakan kamar mandi belakang. Ayah, yang mandi terlebih dahulu tentu keluar
kamar mandi lebih dahulu dibanding si Hitam.
Aku pergi ke kamar dan melanjutkan belajarku yang tertunda karena
ultimatum si Hitam. Ayah pun mengecek
keadaanku di kamar dan mendapatiku sedang belajar. Mungkin beliau ingin marah-marah lagi tapi
tak bisa karena melihatku sedang belajar.
Setengah jam di kamar mandi
membuat si Hitam jauh lebih santai.
Begitu ia membuka lemari bajunya… eng ing eeeeeeeeeeeng… remote itu DI
SANA! DI LEMARI ITU! Wow, nice.
Perutku sangat mulas karena dimarahi hanya untuk remote yang ternyata
‘tersangkut’ di lemari baju. Very nice.
Akhirnya kami berdua
berjingkat-jingkat dan cepat-cepat menunjukkan barang menghebohkan itu pada
ayah sambil melontarkan pandangan ala setan di sinetron kepada si Centil.
Pelajaran yang aku dan si Hitam
dapat hari itu adalah: JANGAN PERNAH BERKOMPROMI DEGAN SI CENTIL GARIS MIRING
ANAK BERUSIA BALITA!!!!!!!!!!!
Yeah, takkan
pernah!!

0 komentar:
Post a Comment